TUGAS 1
1. Progresivisme dan Essensialisme Pendidikan
A. Progresivisme Pendidikan
Progressivisme
mempunyai konsep yang didasari oleh pengetahuan dan kepercayaan bahwa manusia
itu mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi masalah yang
menekan atau mengecam adanya manusia itu sendiri. Aliran Progressivisme
mengakui dan berusaha mengembangakan asas Progressivisme dalam semua realitas,
terutama dalam kehidupan adalah tetap survive terhadap semua tantangan hidup
manusia, harus praktis dalam melihat segala sesuatu dari segi keagungannya.
Berhubungan dengan itu progressivisme kurang menyetujui adanya pendidikan yang
bercorak otoriter, baik yang timbul pada zaman dahulu maupun pada zaman
sekarang.
Aliran progesivisme
telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan saat ini. Aliran ini
telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. Anak
didik diberikan kebaikan baik secara fisik maupun cara berpikir, guna
mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya tanpa terhambat
oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain. Oleh karena itu, filsafat
progesivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang
benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus
terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan.
Kelebihan Filsafat
Pendidikan Progresivisme
1. Siswa diberi kebebasan untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya.
2. Siswa diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapatnya.
3. Siswa belajar untuk mencari tahu sendiri jawaban dari masalah atau
pertanyaan yang timbul di awal pembelajaran. Dengan mendapatkan sendiri jawaban
itu, siswa pasti akan lebih mengingat materi yang sedang dipelajari.
4. Membentuk output yang dihasilkan dari pendidikan di sekolah memilki
keahlian dan kecakapan yang langsung dapat diterapkan di masyarakat luas.
5. Nilai-nilai yang dianut bersifat fleksibel terhadap perubahan.
6. Toleran dan terbuka sehingga menuntut untuk selalu maju bertindak secara
konstruktif, inovatif dan reformatif, aktif serta dinamis.
7. Menjadikan anak didik yang memiliki kualitas dan terus maju sebagai
generasi yang akan menjawab tantangan zaman peradaban baru.
Kekurangan Filsafat
Pendidikan Progresivisme
1. Mengabaikan kurikulum yang telah ditentukan, yang menjadi tradisi sekolah.
2. Mengurangi bimbingan dan pengaruh guru. Siswa memilih aktivitas sendiri.
3. Siswa menjadi orang yang mementingkan diri sendiri, ia menjadi manusia yang
tidak memiliki self discipline, dan tidak mau berkorban demi kepentingan
umum.
4. Progresivisme terlampau menekankan pada pendidikan individu
5. Kelas sekolah progresif artifisial / dibuat-buat dan tidak wajar.
6. Progresivisme bergantung pada minat dan spontan.
7. Siswa merencanakan sesuatu sendiri dan mereka tidak bertanggung jawab
terhadap hasil dari tugas-tugas yang dikerjakan.
B.
Essensialisme
Pendidikan
Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai
kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme
muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan
progresivisme. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak
pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, di mana serta terbuka untuk
perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu.
Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang
memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai
terpilih yang mempunyai tata yang jelas. Idealisme dan realisme adalah aliran
filsafat yang membentuk corak esensialisme. Dua aliran ini bertemu
sebagai pendukung esensialisme, akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak
melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing. Aliran
filsafat esensialisme adalah pendidikan yang didasarkan kepada nilai-nilai
kebudayaan yang telah ada sejak peradaban umat manusia.
Kelebihan
Filsafat Esensialisme
1.
Esensialisme membantu
untuk mengembalikan subject matter ke dalam proses pendidikan, namun tidak
mendukung perenialisme bahwa subject matter yang benar adalah realitas abadi
yang disajikan dalam buku-buku besar dari peradaban barat. Great Book tersebut
dapat digunakan namun bukan untuk mereka sendiri melainkan untuk dihubungkan
dengan kenyataan-kenyataan yang ada pada dewasa ini
2.
Esensialis berpendapat
bahwa perubahan merupaka suatu kenyataan yang tidak dapat diubah dalam
kehidupan sosial. Mereka mengakui evolusi manusia dalam sejarah, namun evolusi
itu harus terjadi sebagai hasil desakan masyarakat secara terus-menerus.
Perubahan terjadi sebagai kemampuan imtelegensi manusia yang mampu mengenal
kebutuhan untuk mengadakan amandemen cara-cara bertindak, organisasi, dan
fungsi sosial.
3.
Menurut aliran ini
suatu ide-ide atau gagasan-gagasan manusia sebagai makhluk yang berpikir, dan
semua ide yang dihasilkan diuji dengan sumber yang ada pada Tuhan yang
menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi dan dilangit, serta segala isinya.
Dengan menguji dan menyelidiki semua ide serta gagasannya maka manusia akan
mencapai suatu kebenaran yang berdasarkan kepada sumber yang ada pada Allah
SWT.
4.
Memberikan dasar
berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, di mana serta terbuka untuk
perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu.
5.
Pendidikan berpijak
pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan
kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.
Kekurangan Filsafat
Esensialisme
a.
menurut esensialis,
sekolah tidak boleh mempengaruhi atau menetapkan kebijakan-kebijakan sosial.
Hal ini mengakibatkan adanya orientasi yang terikat tradisi pada pendidikan
sekolah yang akan mengindoktrinasi siswa dan mengenyampingkan kemungkinan
perubahan.
b.
Para pemikir esensialis
pada umumnya tidak memiliki kesatuan garis karena mereka berpedoman pada
filsafat yang berbeda. Beberapa pemikir esensialis bahkan memandang seni dan
ilmu sastra sebagai embel-embel dan merasa bahwa pelajaran IPA dan teknik serta
kejuruan yang sukar adalah hal-hal yang benar-benar penting yang diperlukan
siswa agar dapat memberi kontribusi pada masyarakat.
c.
Peran guru sangat
dominan sebagai seorang yang menguasai lapangan, dan merupakan model yang
sangat baik untuk digugu dan ditiru. Guru merupakan orang yang menguasai
pengetahuan dan kelas dibawah pengaruh dan pengawasan guru. Jadi, inisiatif
dalam pendidikan ditekankan pada guru, bukan pada siswa.
2.
Filsafat Perenialisme
dan Konstruktivisme
A.
Filsafat Perenialisme
Perenialisme berasal dari kata perennial yang berarti abadi, kekal atau
selalu. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif.
Perenialisme menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan
sesuatu yang baru. Jalan yang ditempuh oleh kaum perenialis adalah dengan jalan
mundur ke belakang, dengan menggunakan kembali nilai nilai atau prinsip prinsip
umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kuat, kukuh pada zaman kuno dan
abad pertengahan. Perenilaisme memandang bahwasanya pada zaman modern ini telah
banyak menimbulkan krisis diberbagai bidang dalam kehidupan manusia, terutama
dalam bidang pndidikan.
Perenialisme bersifat
regresif yaitu untuk menyelesaikan masalah kekacauan yang terjadi dikembalikan
kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan teruji
ketangguhannya.Untuk itulah pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat
perhatiannya kepada kebudayaan yang telah teruji dan tangguh.
Perenialisme merupakan
penolakan dari pandangan progresivisme
Perenialisme lahir pada tahun 1930-an sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan
progresif. Perenialisme menentang pandangan progresivisme yang menekankan
perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia ini penuh
kekacauan, ketidakpastian dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral,
intelektual dan sosio-kultural. Maka perlu ada usaha untuk mengamankan
ketidakberesan ini. Teori atau konsep pendidikan perenialisme dilatar belakangi
oleh filsafat-filsafat Plato yang merupakan bapak idealisme klasik, filsafat
Aristoteles sebagai bapak realisme klasik dan filsafat Thomas Aquinas yang
mencoba memadukan antara filsafat Aristoteles dengan ajaran (filsafat) gereja
katolik yang tumbuh pada zamannya (abad pertengahan).
Tindak lanjut
pelaksanaan penyuluhan sosial dari filsafat pendidikan perenialisme, yaitu
dengan pemberian pelatihan kepada para pendidik sehingga para pendidik akan
lebih mengetahui dan memahami cara mengajar cara mengajar yang baik menurut
teori perenialisme.
Contoh konkritnya
adalah penggunaan metode pembelajaran ceramah dalam proses belajar mengajar.
Dimana pengajaran ini berpusat pada guru sehinggan menimbulkan bahaya
verbalisme dimana orang dapat mengucapkan sesuatu tetapi tidak pernah melihat
dan memahami apa yang diucapkannya. Pada model pembelajaran seperti ini tidak
memberikan kesempatan berbuat dan berpikir untuk memecahkan masalah. Anak
dipaksa mengikuti jalan pikiran guru. Dan anak kurang diberi kesempatan untuk
mengembangkan kemampuan untuk mengeluarkan pendapat. Dalam memberikan nilai,
guru tidak hanya memberikan nilai asli, tetapi juga ada nilai subyektifnya
seperti penilaian kesopanan etika, dan keantusiasan siswa tersebut dalam
mendalami materi yang diajarkan guru tersebut. Sehingga dengan cara itu, nilai
siswa benar-benar asli sesuai dengan kenyataan yang ada pada siswa tersebut.
Kelebihan
Filsafat Perenialisme
1.
Perenialisme tetap
percaya terhadap asas pembentukan kebiasaan dalam permulaan pendidikan anak.
Kecakapan membaca, menulis, dan berhitung merupakan landasan dasar. Dan
berdasarkan pentahapan itu maka learning to reason menjadi tujuan pokok
pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
2.
Belajar sebagai
persiapan hidup. Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau
proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan ideal.
Perenialisme memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun praktik
bagi kebudayaan dan pendidikan zaman sekarang.
3.
Pendidikan ditekankan
pada kebenaran absolut yang bersifat universal yang tidak terikat pada tempat
dan waktu. Perenialisme menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran, dan
keindahan Perenialisme mengangkat kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum
yang menjadi pandangan hidup yang kokoh pada zaman kuno dan abad pertengahan.
Dalam pandangan perenialisme pendidikan lebih banyak mengarahkan perhatiannya
pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh.
4.
Kurikulum menekankan
pada perkembangan intelektual siswa pada seni dan sains.
Untuk menjadi terpelajar secara kultural, para siswa harus berhadapan pada
bidang-bidang seni dan sains yang merupakan karya terbaik dan paling
significant yang diciptakan oleh manusia. Contohnya, seorang guru bahasa
Inggris mengharuskan siswanya untuk membaca Moby Dick nya Melville atau
drama-drama Shakespeare.
Kekurangan Filsafat
Perenialisme
1.
Pengetahuan dianggap
lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang
menganut paham ini menekankan pada kebenaran absolut, kebenaran universal yang
tidak terkait pada tempat dan waktu aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.
2.
Perenialis kurang
menerima adanya perubahan-perubahan, karena menurut mereka perubahan banyak
menimbulkan kekacauan, ketidakpastian,dan ketidakteraturan, terutama dalam
kehidupan moral, intelektual, dan sosio-kultural.
3.
Focus perenialis
mengenai kurikulum adalah pada disiplin-disiplin pengetahuan abadi , hal ini
akan berdampak pada kurangnya perhatian pada realitas peserta didik dan
minat-minatsiswa.
B.
Filsafat Konstruktivisme
Konstruktivisme
berkembang dalam rangka mengatasi proses pendidikan yang pada umumnya dilakukan
melalui transfer pengetahuan dari guru kepada siswa. Para rekonstruktivis ingin
menhubahnya agar siswa belajar melalui suatu proses dengan cara-cara yang
bermaknsa, memperkaya dan memungkinkan siswa menginterpretasikan alam semsta
dengan pengertian yang ilmiah. Konstruktivisme didukung oleh empirisme dan
pragmatisme. Ada yang berpendapat bahwa konstruktivisme mengandung bahaya yang
mengarah ke empirisme dan relativisme.
Konstruktivisme
memandang pendidikan bukan kegiatan menyampaikan pengetahuan melainkan membantu
siswa berpikir secara benar dan mandiri, mengonstruksi pengetahuan, membuat
makna, bersikap kritis dan mengajukan justifikasi.
Tujuan pendidikan lebih mengutamakan perkembangan konsep dan
pengetahuan yang mendalam sebagai hasil konstruksi aktif siswa dengan
mempertimbangkan multimetode untuk dipilih.
Kelebihannya:
1. Membangkitkan kesadaran para
peserta didik tentang masalah sosial, ekonomi dan politik yang dihadapi umat
manusia dalam skala global, dan mengajarkan kepada mereka
keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut.
2. Kurikulum berisi mata-mata pelajaran yang
berorientasi pada kebutuhan-kebutuhan masyarakat masa depan. Kurikulum disusun untuk menyoroti kebutuhan akan beragam reformasi sosial.
3. Anak, sekolah, dan pendidikan itu sendiri dikondisikan oleh kekuatan budaya
dan sosial.
4. Rekonstruktivisme menekankan pada pengalaman yang dimiliki para siswa
dengan interaksi ekstensif antara guru dan siswa dan diantara para siswa itu
sendiri.
5. Melalui suatu pendekatan rekonstruktivisme sosial pada pendidikan, para
siswa belajar metode-metode yang tepat untuk berhadapan dengan krisis-krisis
signifikan yang melanda dunia.
Kekurangannya:
1. Karena tujuan sekolah adalah mengembangkan rekayasa sosial, beban dan
tanggung jawab sekolah sangatlah berat.
2. Tawaran pemikiran yang direkomendasikan oleh rekonstruktivismeme seperti
keterlibatan aktif dunia pendidikan pada dunia politik akan berdampak buruk
pada aktivitas pendidikan yang secara akdemik terlalu sakral yang kemudian
untuk dicemari oleh intrik-intrik poloitik yang kotor dan menghalalkan segala
cara untuk memuaskan nafsu kekuasaan sebuah kelompok politik tertentu.
3. Rekonstruktivismeme bersifat makro, dan kurang menitikberatkan pada
individu, padahal pendidikan seharusnya bertujuan untuk membangun
kepribadian yang didalamnya terdapat kebagusan akal budi dan moralitas individu
(ahlak). Pendidikan tidak hanya ingin melahirkan para aktivis sosial, akan
tetapi juga manusia yang bermoral, berkarakter, dan memiliki spiritualitas
cukup.
4. Gagasan-gagasan yang ada di dalam rekonstruktivismeme sangat teoritik dan
cenderung tidak realistik. Karena gagasan seperti pembentukan tatanan sosial
baru yang sangat ideal sebagai solusi atas bencana kemanusiaan yang terjadi,
ibarat “mimpi disiang bolong”, sebab upaya tersebut seolah mengabaikan
kondisi rill umat manusia saat ini.