Saturday, October 24, 2015

PENGANTAR PENDIDIKAN - FILSAFAT PENDIDIKAN



TUGAS 1

1.      Progresivisme dan Essensialisme Pendidikan

A.    Progresivisme Pendidikan
Progressivisme mempunyai konsep yang didasari oleh pengetahuan dan kepercayaan bahwa manusia itu mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi masalah yang menekan atau mengecam adanya manusia itu sendiri. Aliran Progressivisme mengakui dan berusaha mengembangakan asas Progressivisme dalam semua realitas, terutama dalam kehidupan adalah tetap survive terhadap semua tantangan hidup manusia, harus praktis dalam melihat segala sesuatu dari segi keagungannya. Berhubungan dengan itu progressivisme kurang menyetujui adanya pendidikan yang bercorak otoriter, baik yang timbul pada zaman dahulu maupun pada zaman sekarang.
Aliran progesivisme telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan saat ini. Aliran ini telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. Anak didik diberikan kebaikan baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain. Oleh karena itu, filsafat progesivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter.  Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan.

Kelebihan Filsafat Pendidikan Progresivisme
1.      Siswa diberi kebebasan untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya.
2.      Siswa diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapatnya.
3.      Siswa belajar untuk mencari tahu sendiri jawaban dari masalah atau pertanyaan yang timbul di awal pembelajaran. Dengan mendapatkan sendiri jawaban itu, siswa pasti akan lebih mengingat materi yang sedang dipelajari.
4.      Membentuk output yang dihasilkan dari pendidikan di sekolah memilki keahlian dan kecakapan yang langsung dapat diterapkan di masyarakat luas.
5.      Nilai-nilai yang dianut bersifat fleksibel terhadap perubahan.
6.      Toleran dan terbuka sehingga menuntut untuk selalu maju bertindak secara konstruktif, inovatif dan reformatif, aktif serta dinamis.
7.      Menjadikan anak didik yang memiliki kualitas dan terus maju sebagai generasi yang akan menjawab tantangan zaman peradaban baru.

Kekurangan Filsafat Pendidikan Progresivisme
1.      Mengabaikan kurikulum yang telah ditentukan, yang menjadi tradisi sekolah.
2.      Mengurangi bimbingan dan pengaruh guru. Siswa memilih aktivitas sendiri.
3.      Siswa menjadi orang yang mementingkan diri sendiri, ia menjadi manusia yang tidak memiliki self discipline, dan tidak mau berkorban demi kepentingan umum.
4.      Progresivisme terlampau menekankan pada pendidikan individu
5.      Kelas sekolah progresif artifisial / dibuat-buat dan tidak wajar.
6.      Progresivisme bergantung pada minat dan spontan.
7.      Siswa merencanakan sesuatu sendiri dan mereka tidak bertanggung jawab terhadap hasil dari tugas-tugas yang dikerjakan.


B.                 Essensialisme Pendidikan
Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, di mana serta terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk  corak esensialisme. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme, akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing.  Aliran filsafat esensialisme adalah pendidikan yang didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak peradaban umat manusia.

Kelebihan  Filsafat Esensialisme
1.                  Esensialisme membantu untuk mengembalikan subject matter ke dalam proses pendidikan, namun tidak mendukung perenialisme bahwa subject matter yang benar adalah realitas abadi yang disajikan dalam buku-buku besar dari peradaban barat. Great Book tersebut dapat digunakan namun bukan untuk mereka sendiri melainkan untuk dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan yang ada pada dewasa ini
2.             Esensialis berpendapat bahwa perubahan merupaka suatu kenyataan yang tidak dapat diubah dalam kehidupan sosial. Mereka mengakui evolusi manusia dalam sejarah, namun evolusi itu harus terjadi sebagai hasil desakan masyarakat secara terus-menerus. Perubahan terjadi sebagai kemampuan imtelegensi manusia yang mampu mengenal kebutuhan untuk mengadakan amandemen cara-cara bertindak, organisasi, dan fungsi sosial.
3.             Menurut aliran ini suatu ide-ide atau gagasan-gagasan manusia sebagai makhluk yang berpikir, dan semua ide yang dihasilkan diuji dengan sumber yang ada pada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi dan dilangit, serta segala isinya. Dengan menguji dan menyelidiki semua ide serta gagasannya maka manusia akan mencapai suatu kebenaran yang berdasarkan kepada sumber yang ada pada Allah SWT.
4.             Memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, di mana serta terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu.
5.             Pendidikan berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.

Kekurangan Filsafat Esensialisme
a.                   menurut esensialis, sekolah tidak boleh mempengaruhi atau menetapkan kebijakan-kebijakan sosial. Hal ini mengakibatkan adanya orientasi yang terikat tradisi pada pendidikan sekolah yang akan mengindoktrinasi siswa dan mengenyampingkan kemungkinan perubahan.
b.                  Para pemikir esensialis pada umumnya tidak memiliki kesatuan garis karena mereka berpedoman pada filsafat yang berbeda. Beberapa pemikir esensialis bahkan memandang seni dan ilmu sastra sebagai embel-embel dan merasa bahwa pelajaran IPA dan teknik serta kejuruan yang sukar adalah hal-hal yang benar-benar penting yang diperlukan siswa agar dapat memberi kontribusi pada masyarakat.
c.                   Peran guru sangat dominan sebagai seorang yang menguasai lapangan, dan merupakan model yang sangat baik untuk digugu dan ditiru. Guru merupakan orang yang menguasai pengetahuan dan kelas dibawah pengaruh dan pengawasan guru. Jadi, inisiatif dalam pendidikan ditekankan pada guru, bukan pada siswa.
2.                  Filsafat Perenialisme dan Konstruktivisme
A.                Filsafat Perenialisme
Perenialisme berasal dari kata perennial yang berarti abadi, kekal atau selalu. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Perenialisme menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Jalan yang ditempuh oleh kaum perenialis adalah dengan jalan mundur ke belakang, dengan menggunakan kembali nilai nilai atau prinsip prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kuat, kukuh pada zaman kuno dan abad pertengahan. Perenilaisme memandang bahwasanya pada zaman modern ini telah banyak menimbulkan krisis diberbagai bidang dalam kehidupan manusia, terutama dalam bidang pndidikan.
Perenialisme bersifat regresif yaitu untuk menyelesaikan masalah kekacauan yang terjadi dikembalikan kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan teruji ketangguhannya.Untuk itulah pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya kepada kebudayaan yang telah teruji dan tangguh.
Perenialisme merupakan penolakan dari pandangan progresivisme
Perenialisme lahir pada tahun 1930-an sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Perenialisme menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia ini penuh kekacauan, ketidakpastian dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio-kultural. Maka perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan ini. Teori atau konsep pendidikan perenialisme dilatar belakangi oleh filsafat-filsafat Plato yang merupakan bapak idealisme klasik, filsafat Aristoteles sebagai bapak realisme klasik dan filsafat Thomas Aquinas yang mencoba memadukan antara filsafat Aristoteles dengan ajaran (filsafat) gereja katolik yang tumbuh pada zamannya (abad pertengahan).
Tindak lanjut pelaksanaan penyuluhan sosial dari filsafat pendidikan perenialisme, yaitu dengan pemberian pelatihan kepada para pendidik sehingga para pendidik akan lebih mengetahui dan memahami cara mengajar cara mengajar yang baik menurut teori perenialisme.
Contoh konkritnya adalah penggunaan metode pembelajaran ceramah dalam proses belajar mengajar. Dimana pengajaran ini berpusat pada guru sehinggan menimbulkan bahaya verbalisme dimana orang dapat mengucapkan sesuatu tetapi tidak pernah melihat dan memahami apa yang diucapkannya. Pada model pembelajaran seperti ini tidak memberikan kesempatan berbuat dan berpikir untuk memecahkan masalah. Anak dipaksa mengikuti jalan pikiran guru. Dan anak kurang diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan untuk mengeluarkan pendapat. Dalam memberikan nilai, guru tidak hanya memberikan nilai asli, tetapi juga ada nilai subyektifnya seperti penilaian kesopanan etika, dan keantusiasan siswa tersebut dalam mendalami materi yang diajarkan guru tersebut. Sehingga dengan cara itu, nilai siswa benar-benar asli sesuai dengan kenyataan yang ada pada siswa tersebut.
Kelebihan  Filsafat Perenialisme
1.                  Perenialisme tetap percaya terhadap asas pembentukan kebiasaan dalam permulaan pendidikan anak. Kecakapan membaca, menulis, dan berhitung merupakan landasan dasar. Dan berdasarkan pentahapan itu maka learning to reason menjadi tujuan pokok pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
2.                  Belajar sebagai persiapan hidup. Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan ideal. Perenialisme memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun praktik bagi kebudayaan dan pendidikan zaman sekarang.
3.                  Pendidikan ditekankan pada kebenaran absolut yang bersifat universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Perenialisme menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran, dan keindahan Perenialisme mengangkat kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang menjadi pandangan hidup yang kokoh pada zaman kuno dan abad pertengahan. Dalam pandangan perenialisme pendidikan lebih banyak mengarahkan perhatiannya pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh.
4.                  Kurikulum menekankan pada perkembangan intelektual siswa pada seni dan sains.
Untuk menjadi terpelajar secara kultural, para siswa harus berhadapan pada bidang-bidang seni dan sains yang merupakan karya terbaik dan paling significant yang diciptakan oleh manusia. Contohnya, seorang guru bahasa Inggris mengharuskan siswanya untuk membaca Moby Dick nya Melville atau drama-drama Shakespeare.
Kekurangan Filsafat Perenialisme
1.                  Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut paham ini menekankan pada kebenaran absolut, kebenaran universal yang tidak terkait pada tempat dan waktu aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.
2.                  Perenialis kurang menerima adanya perubahan-perubahan, karena menurut mereka perubahan banyak menimbulkan kekacauan, ketidakpastian,dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual, dan sosio-kultural.
3.                  Focus perenialis mengenai kurikulum adalah pada disiplin-disiplin pengetahuan abadi , hal ini akan berdampak pada kurangnya perhatian pada realitas peserta didik dan minat-minatsiswa.

B.     Filsafat Konstruktivisme
Konstruktivisme berkembang dalam rangka mengatasi proses pendidikan yang pada umumnya dilakukan melalui transfer pengetahuan dari guru kepada siswa. Para rekonstruktivis ingin menhubahnya agar siswa belajar melalui suatu proses dengan cara-cara yang bermaknsa, memperkaya dan memungkinkan siswa menginterpretasikan alam semsta dengan pengertian yang ilmiah. Konstruktivisme didukung oleh empirisme dan pragmatisme. Ada yang berpendapat bahwa konstruktivisme mengandung bahaya yang mengarah ke empirisme dan relativisme.
Konstruktivisme memandang pendidikan bukan kegiatan menyampaikan pengetahuan melainkan membantu siswa berpikir secara benar dan mandiri, mengonstruksi pengetahuan, membuat makna, bersikap kritis dan mengajukan justifikasi.
Tujuan pendidikan  lebih mengutamakan perkembangan konsep dan pengetahuan yang mendalam sebagai hasil konstruksi aktif siswa dengan mempertimbangkan multimetode untuk dipilih.

Kelebihannya:
1.      Membangkitkan kesadaran para peserta didik tentang masalah sosial, ekonomi dan politik yang dihadapi umat manusia dalam skala global, dan mengajarkan kepada mereka keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut.
2.      Kurikulum berisi mata-mata pelajaran yang berorientasi pada kebutuhan-kebutuhan masyarakat masa depan. Kurikulum disusun untuk menyoroti kebutuhan akan beragam reformasi sosial.
3.      Anak, sekolah, dan pendidikan itu sendiri dikondisikan oleh kekuatan budaya dan sosial.
4.      Rekonstruktivisme menekankan pada pengalaman yang dimiliki para siswa dengan interaksi ekstensif antara guru dan siswa dan diantara para siswa itu sendiri.
5.      Melalui suatu pendekatan rekonstruktivisme sosial pada pendidikan, para siswa belajar metode-metode yang tepat untuk berhadapan dengan krisis-krisis signifikan yang melanda dunia.

Kekurangannya:
1.      Karena tujuan sekolah adalah mengembangkan rekayasa sosial, beban dan tanggung jawab sekolah sangatlah berat.
2.      Tawaran pemikiran yang direkomendasikan oleh rekonstruktivismeme seperti keterlibatan aktif dunia pendidikan pada dunia politik akan berdampak buruk pada aktivitas pendidikan yang secara akdemik terlalu sakral yang kemudian untuk dicemari oleh intrik-intrik poloitik yang kotor dan menghalalkan segala cara untuk memuaskan nafsu kekuasaan sebuah kelompok politik tertentu.
3.      Rekonstruktivismeme bersifat makro, dan kurang menitikberatkan pada individu, padahal pendidikan seharusnya bertujuan untuk membangun kepribadian yang didalamnya terdapat kebagusan akal budi dan moralitas individu (ahlak). Pendidikan tidak hanya ingin melahirkan para aktivis sosial, akan tetapi juga manusia yang bermoral, berkarakter, dan memiliki spiritualitas cukup.
4.      Gagasan-gagasan yang ada di dalam rekonstruktivismeme sangat teoritik dan cenderung tidak realistik. Karena gagasan seperti pembentukan tatanan sosial baru yang sangat ideal sebagai solusi atas bencana kemanusiaan yang terjadi, ibarat “mimpi disiang bolong”, sebab upaya tersebut seolah mengabaikan kondisi rill umat manusia saat ini.


EmoticonEmoticon