Wednesday, February 1, 2017

MASIH, DEMO ANTI TRUMP!


Demo Anti-Trump Meluas


PARA demonstran berkumpul di bandara Internasional Los Angeles untuk memprotes larangan masuknya warga dari enam negara Muslim, Minggu (29/1). 

WASHINGTON - Demonstrasi menentang kebijakan Presiden Donald melarang warga tujuh negara muslim masuk AS terus meluas. Aksi-anti-Trump meledak pada Minggu (29/1) waktu setempat, dimana puluhan ribu orang melakukan unjuk rasa di beberapa kota dan bandara, sehingga sempat membuat kekacauan.
Salah satu unjuk rasa terbesar di Battery Park, pusat kota Manhattan, di lingkungan patung Liberty di pelabuhan kota New York sebagai simbol selamat datang di Pantai AS. Senator Partai Demokrat New York Charles Schumer di tengah-tengah massa menyatakan kebijakan Trump tidak menunjukkan sebagai bangsa Amerika dan bertentangan dengan nilai-nilai pokok negara itu.
“Apa yang kami katakan mengenai kehidupan dan kematian di sini untuk begitu banyak orang,” kata pemimpin senat dari Partai Demokrat itu. Senator Chuck Schumer sempat mengatakan larangan Trump seperti: “Air mata mengalir di pipi Patung Liberty”.
Sejumlah Senator dari Partai Republik, pendukung Trump juga meminta sang presiden mencabut larangan itu dengan menyebut sebagai kebijakan anti-Muslim. Senator Republik lainnya, John McCain dan Lindsey Graham yang merupakan pensiunan pejabat militer memperingatkan kebijakan imigrasi Trump akan melukai perang melawan terorisme.
Keduanya menyatakan kerjasama intelijen dan kontra terorisme dengan sekutu Arab bisa terancam akibat hubungan makin memburuk. Contohnya, Uni Emirat Arab (UEA), pusat komunikasi digital dalam melawan propaganda ISIS dan koordinasi dengan intelijen Saudi berperan penting dalam menggagalkan sebuah rencana untuk meledakkan dua pesawat kargo AS pada 2010.
Koran Nasional UEA melaporkan mengatakan bukan hanya tidak menghormati orang-orang yang telah memberikan hidup mereka, tetapi juga melemahkan aliansi yang diperlukan untuk menghentikan serangan lebih lanjut di Timur Tengah.
Sedangkan Goldman Sachs, salah satu perusahaan besar AS, Senin (30/1) bergabung dengan perusahaan raksasa lainnya untuk memprotes kebijakan Trump. Lloyd Blankfein, Kepala Eksekutif Goldman Sachs yang telah mendudukkan sejumlah pejabat senior di pemerintahan Trump menyampaikan keprihatinannya.
“Ini bukan kebijakan yang kita dukung dan saya harus mencatat, telah ditentang pengadilan federal,” ujarnya. Tetapi, Presiden Donald Trump pada Senin (30/1) membantah kebijakan imigrasinya sebagai penyebab kekacauan di bandara, tetapi adanya gangguan komputer, pengunjuk rasa dan “air mata Senator Schumer.”
“Tidak ada yang baik tentang mencari teroris sebelum mereka dapat masuk ke negara ini,” tulis Trump. “Ini adalah bagian besar dari kampanye saya. Jenjang dunia!.” Dalam tweet lain, Trump membela keputusannya untuk mengambil tindakan cepat atas larangan perjalanan dengan mengatakan ada banyak yang buruk di luar sana.
Trump menangguhkan semua imigrasi untuk warga tujuh negara muslim selama 90 hari yakni Irak, Suriah, Iran, Sudan, Libya, Somalia dan Yaman. Di Irak, dua anggota parlemen mengatakan parlemen Irak telah menyetujui balasan dengan membatasi masuknya Amerika ke Irak.
Sementara itu, tidak jelas bagaimana Trump akan membuat bangsa lebih aman, seperti mengatasi ekstrimis dalam negeri. Tetapi, Trump menyatakan hanya 109 dari 325.000 orang yang ditahan untuk diinterogasi dari tujuh negara mayoritas muslim.
Sebelumnya, seorang hakim federal di New York telah mengeluarkan perintah darurat sementara pembatasan deportasi orang-orang dari tujuh negara muslim. Tetapi, Departemen Keamanan Dalam Negeri mengatakan putusan pengadilan tidak akan mempengaruhi kebijakan Gedung Putih.


Selain beeberapa tokoh tersebut di atas, masih ada juga tokoh-tokoh US yang sedikit keberatan dan menyatakan “tidak Sepakat” dengan keputusan Trump, di antaranya Arnold Schwarzenegger yang juga pernah menjabat sebagai Gubernur California, Amerika Serikat, memberikan kritikan pedas terhadap kebijakan Donald Trump itu. Arnold ternyata merupakan seorang imigran asal Austria, seperti diwartakan FoxNews, Selasa (31/1/2017).


Perdana Menteri Inggris, Theresa May, seakan ragu merespons kebijakan tersebut. Usai pertemuan empat mata yang sukses dengan Presiden AS, ia mengaku "tak sepakat" dengan apa yang dilakukan Donald Trump.

Kritik tajam juga datang dari para tokoh di bidang teknologi. Bos Facebook, Mark Zuckerberg, mengingatkan bahwa AS adalah bangsa imigran.

Sementara pelari Inggris, Mo Farah, khawatir ia tak bisa pulang ke rumahnya di Oregon, AS.

"Donald Trump membuatku seakan jadi alien," kata atlet keturunan Somalia itu.
Anda perlu tahu Mr. Mo, tidak hanya Anda, tapi semua Muslim dari 7 negara benar-benar diperlakukan seperti alien oleh Trump. Entahlah, kemarin Trump masih sibuk menonton Finding Dony saat para pahlawan anti rasis kita berjuang di Inggris, Mall-mall, Universitas, dll.. mungkin sekarang Trump sedang sibuk nonton SpongeBob. -_-


We, Muslims are peaceful.


EmoticonEmoticon